Jumat, 08 Juli 2011

MES Intensif Gelar Forum Riset Perbankan Syariah

Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) semakin intensif mengadakan Forum Riset Perbankan Syariah (FRPS). Setelah di Palembang dan Yogyakarta 2010 lalu, MES bekerja sama dengan Bank Indonesia (BI), Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) dan Forum Silaturahmi dan Studi Ekonomi Islam (FOSSEI), bakal menyelenggarakan FRPS 2011 di IAIN Sumatera Utara dan Universitas Padjajaran.

Direktur Eksekutif Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Achmad Iqbal, mengatakan FRPS kali ini mengambil tema meningkatkan kualitas dan daya saing industri perbankan syariah nasional di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). “Ini merupakan upaya mengatasi permasalahan dalam pengembangan perbankan syariah di Indonesia,” katanya.

Rangkaian acara FRPS meliputi Call for Paper, seminar dan simposium. Melalui kegiatan Call for Paper, masyarakat luas terutama civitas akademika diundang untuk mengirimkan hasil karya ilmiahnya sesuai dengan tema yang telah ditentukan oleh panitia.

"Siapapun boleh mengirimkan hasil penelitiannya,” katanya. Namun, tulisannya harus sesuai tema, pedoman penulisan yang sudah ditentukan sebelumnya, inovatif dan solutif serta berdaya aplikatif tinggi untuk mendukung pengembangan industri perbankan syariah di Tanah Air.

Ia mengaku FRPS diharapkan dapat menjembatani dan saling menguatkan antara dunia praktisi dan dunia akademisi. Kegiatan ini akan dilakukan pada September dan Desember nanti.

Kamis, 07 Juli 2011

Pembiayaan Syariah Sektor Ritel Bisa Tumbuh 40%



Sektor ritel akan menjadi kunci penggerak kebangkitan industri perbankan syariah nasional. Sektor tersebut memberikan peluang pertumbuhan pembiayaan yang tinggi dengan tingkat risiko tetap terjaga. “Segmen ritel sangat bisa menjadi pendorong perkembangan perbankan syariah nasional,” kata pengamat perbankan syariah Adiwarman Karim kepada Investor Daily di Jakarta, baru-baru ini.

Adiwarman menjelaskan, pembiayaan syariah di segmen ini menjanjikan pertumbuhan yang tinggi hingga 30%-40% per tahun. Di sisi lain, margin yang bisa diperoleh juga lebih tinggi dibanding segmen lainnya. Ia menambahkan, risiko pembiayaan macet pada segmen ini juga tersebar. “Ini peluang yang sangat bagus sebagai jalan mengembangkan industri perbankan syariah dengan lebih cepat,” ujar dia.

Adiwarman mengungkapkan, hampir semua bank umum syariah (BUS) maupun unit usaha syariah sudah masuk dalam pembiayaan ritel. Bahkan beberapa di antaranya mengandalkan segmen ini sebagai kontributor terbesar pembiayaan perusahaan.

Tercatat, PT Bank Syariah Mandiri (BSM) yang merupakan bank syariah terbesar di Indonesia memfokuskan penyaluran pembiayaan di segmen ini. Sektor ritel masih menjadi andalan penyumbang terbesar dalam pembiayaan perseroan.

Hingga Mei 2011, pembiayaan BSM di sektor tersebut sudah mencapai Rp19,67 triliun atau tumbuh 68,84% dibanding periode sama tahun lalu yang baru sebesar Rp11,65 triliun. Kontribusi pembiayaan sektor ritel BSM hingga Mei 2011 mencapai 69,03% dari total pembiayaan perseroan. Sementara pada periode yang sama tahun lalu kontribusi baru 62,65% dari total pembiayaan. Adiwarman memprediksi, arah pembiayaan perbankan syariah ke depan masih terus ke segmen ritel. Dia menjelaskan, segmen ritel terbagi menjadi dua, yaitu consumer banking dan usaha kecil. Selanjutnya, usaha kecil juga terbagi menjadi dua, yaitu usaha kecil dan mikro.

Dengan semakin banyaknya bank syariah yang terus ekspansif di segmen ini, ke depannya pembiayaan segmen ritel bisa mengontribusi 60-70% dari total pembiayaan perbankan syariah.

Dengan dukungan pertumbuhan pembiayaan di segmen ritel yang cukup tinggi, akan semakin memperbesar kontribusi perbankan syariah terhadap industri perbankan nasional. Pertumbuhan pembiayaan tersebut akan mendorong kenaikan aset perbankan syariah dan diperkirakan asetnya akan mencapai 5% dari total aset perbankan nasional pada 2015. Sementara saat ini aset perbankan syariah masih sebanyak 3% dari total aset perbankan nasional.

Adiwarman menambahkan, untuk mengejar pangsa pasar pasar aset 5% itu sebenarnya bisa dilakukan dengan mendorong perbankan syariah menjadi lebih ke bentuk corporate banking. “Namun kerugiannya corporate banking itu sangat tidak stabil. Sebab itu, jika sewaktu-waktu gagal, perbankan syariah akan cepat terpuruk,” jelas dia.

Jumat, 01 Juli 2011

Bank Syariah Harus Ke-Indonesiaan



Berkembangnya perbankan syariah di setiap belahan dunia memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Di negara timur tengah berkembangnya perbankan syariah karena beredarnya dana besar pertrodollars, di Eropa dikarenakan adanya faktor untuk menahan dana petrdolars yang sebelumnya sudah disimpan di bank konvensional, untuk di Asia khususnya Malaysia, berkembangnya perbankan syariah karena adanya dukungan penuh dari pemerintah. Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Menurut Dirut Bank Syariah Mandiri Yuslam Fauzi, Indonesia memiliki faktor atau kekuatan yang berbeda dengan negara lain dalam mengembangkan perbankan syariah. Indonesia memiliki dua kekuatan yaitu populasi muslim dan agrikulturnya.

“Kita berbeda dengan timur tengah dan Eropa yang memiliki petrodollars, kita tidak punya, kita juga berbeda dengan Malaysia yang memiliki dukungan pemerintah sedangkan kita hanya mendapat sedikit dukungan. Yang kita punya adalah populasi muslim terbesar dan kebudayaan agrikultur, dua hal itu adalah sesuatu yang ke-Indonesiaan” paparnya di acara seminar “Menuju Indonesia Sebagai Trend Setter Perbankan Syariah Global” di Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Kamis (30/6) kemarin.

Dengan dua kekuatan tersebut, Yuslam yakin kedepannya Indonesia bisa menjadi pionir perbankan syariah. Oleh karena itu, menurutnya perbankan syariah di Indonesia jangan hanya sekedar mengejar kemajuan bisnis saja tetapi bisa mensejahterakan umat muslim yang banyak di negeri ini.

“Kita harus membangun Islamic Finance yang ke-Indonesiaan karena populasi muslim terbesar berada di Indonesia maka sangat mungkin Indonesia menjadi pionir perbankan syariah global,” ungkapnya.
Sejalan akan hal tersebut, ketua Asosiasi Bank Syariah Indonesia (ASBISINDO)Riawan Amir, mengungkapkan bahwa memang seharusnya bank syariah tidak sekedar mengejar bisnis semata tetapi bisa mensejahterakan umat secara menyeluruh.

“Bank syariah jangan hanya mengejar bisnis saja tetapi harus sesuai dengan tujuan syariah yaitu menciptakan kesejahteraan umat manusia,”tandasnya.

Senin, 27 Juni 2011

Bisnis Franchise lewat Bank Syariah Mandiri



Bagi para pengusaha yang ingin mendirikan usaha maupun bagi para Franchisee yang ingin memulai usaha dengan Franchisor, Bank Syariah Mandiri menawarkan kemitraan melalui Pembiayaan Mikro Syariah.

Bank Syariah Mandiri menawarkan berbagai manfaat yaitu Pembiayaan yang sesuai syariah dan non ribawi Angsuran Ringan dengan jangka waktu maksimal 3 sampai 4 tahun, Pola angsuran sesuai kemampuan (harian , mingguan atau bulanan) serta nominal plafond sampai dengan Rp 100 juta serta persyaratan yang mudah.

Berikut Skema Kerjasama Bisnis Waralaba Persembahan BSM :
1. BSM membuat perjanjian kerjasama (PKS) pola kemitraan (program KUR) kepada Franchisor/Business Oppurtunity (BO)
2. Calon Franchisee/Cabang Franchisor/BO mengajukan pembiayaan va Franchisor/BO Pusat ke BSM
3. Franchisor/BO merekomendasikan calon Franchisee kepada BSM
4. BSM menganalisa pembiayaan atas nama calon franchisee/cabang Franchisor/BO
5. Akad pembiayaan anatar BSM dengan franchisee/cabang Franchisor/BO
Selain itu BSM juga memberikan sistem pendukung program kemitraan melalui fasilitas BSM Pooling Fund dimana memudahkan dalam emngatur dan mengelola dana setiap rekening yang dimiliki secara otomatis melaui keinginan Franchisor/BO.

Manfaat yang diperoleh adalah
1. Franchisor/BO dapat melakukan pooling fund dengan dua tingkat (layer)
2. Franchisor/BO dapat mengontrol seluruh dananya secara efektif
3. Franchisor/BO dapat menetapkan sendiri nilai batas saldo maksimal dan saldo minimal di setiap rekening primer dan rekening sekunder
4. Rekening master, rekening sekunder dan rekening primer dapat dibuka di seluruh cabang BSM yang berbeda
5. Proses pooling fund akan dilakukan pada akhir hari baik untuk under funding maupun over funding
6. Aman karena sistem tidak akan mendebit rekening level di atasnya apabilaada penarikan dari rekening primer atau rekening sekunder yang melebihi saldo yang tersedia.

Untuk informasi lebih lanjut bisa datang langsung ke seluruh cabang BSM terdekt di kota Anda.
Sumber :Booklet iB Mitra Franchise, Kontan

Sabtu, 25 Juni 2011

Sukuk Negara Bakal Dijual di Kantor Pos



Pemerintah berencana menjadikan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk sebagai salah satu pilihan investasi. Nantinya, sukuk bahkan dapat diperoleh pada kantor pos yang ada di Indonesia.

Direktur Pembiayaan Syariah Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Dahlan Siamat menuturkan adapun jenis sukuk ini adalah Islamic Savings Bond. Dengan diterbitkannya sukuk ini, lanjut dia, maka dapat mendorong perkembangan sukuk ke depannya.

“Ini dalam rangka perspektif pengembangan sukuk ke depan,” katanya kala di temui di Kantor Menko Perekonomian, Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (24/6/2011).

Dengan tenor 3-5 tahun dan bunga tetap serta tidak dapat diperdagangkan (nontradable) maka sasaran dari penerbitan Islamic Savings Bonds adalah investor individual. Lebih jauh dia mengungkapkan, Islamic Savings Bonds dapat menjadi pelengkap dari Sukuk Ritel (Sukri) yang sama-sama mentargetkan investor individual.

“Kalau Sukri kan terbitnya setahun sekali dan individunya juga yang kepemilikannya besar-besar. Sementara ISB bisa diterbitkan tiga bulan sekali dan bisa dibeli oleh individu yang kecil,” jelas Dahlan.

Akan tetapi Dahlan belum bisa mengungkapkan kapan instrumen pembiayaan syariah tersebut bisa diluncurkan. Pasalnya, pemerintah masih perlu mematangkan sistemnya terlebih dulu. “Kita sedang memersiapkan sistemnya, agar ini bisa dijual di kantor pos atau Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPN) Ditjen Perbendaharaan. Tapi kajiannya masih preeliminary,” kata Dahlan.

Dahlan optimis jika sukuk ini akan menjadi pilihan menarik bagi para investor, pasalnya, selama ini kala dilakukan lelang sukuk selalu mengalami oversubscribed. 'Tapi, Kita tidak mau langsung ambil semua, disesuaikan dengan benchmark yield yang ada," tukas Dahlan.

Sekedar inforasi, total outstanding penerbitan Surat Berharga Syariah Negara hingga 20 Juni 2011, mencapai Rp62,918 triliun. Sementara outstanding SBSN sebesar Rp62,918 triliun itu terdiri dari Islamic Fixed Rate (IFR) Rp15,627 triliun, Sukuk Ritel Rp20,932 triliun. Kemudian, Sukuk Dana Haji Indonesia (SDHI) Rp20,783 triliun dan Sukuk Negara Indonesia (SNI) atau sukuk global Rp5,576 triliun.

"Total penempatan SDHI sejak 2009 sebenarnya Rp23,469 triliun, namun sebesar Rp2,686 triliun telah jatuh tempo," kata Dahlan.